Jendela

Image

Sejak kecil aku memiliki perasaan yang berlebihan pada semua perhiasan langit. Mulai dari awan hingga rembulan, semuanya mendapatkan perhatian tak wajar dariku. Namun yang paling kukagumi adalah pelangi. Aku selalu berpikir bahwa tiap bias warnanya memancarkan aura yang magis, dan aku menyukainya.

Saat aku baru saja bisa mengeja kata keluarga, Ayah menitipkanku pada Nenek. Semenjak itulah aku ada di kota ini. Kota kecil yang disebut orang sahabat matahari. Aku senang tinggal di sini. Setiap pagi embun bertengger di ujung daun randu dan berkilauan diterpa cahaya mentari. Sehabis hujan pun pelangi selalu terlihat. Membujur indah dari barat ke timur.

Continue reading


Memoria

Dalam kotak yang menamai dirinya memori, hidup engkau, aku, dan angin. Bagaimana mereka bisa berkumpul dan menguntai kisah, itu tergantung sejauh mana pengetahuanmu.

Selalu ada perasaan lain tiap angin berembus membelai jengkal tubuhku. Rasa itu abstrak, tak berwujud dan tak bisa dilihat seperti udara ini. Di dalamnya mungkin engkau merupa, tetapi bisa saja sosok itu adalah orang lain. Aku tak benar-benar yakin. Ingatanku pemalas, ia tak hendak bekerja terlalu keras.

Continue reading


Hampa

Image

Rupa apa yang engkau harapkan dari dalam rahim kehampaan?

“Sudah enam belas tahun ya,” katanya lembut, berjeda satu setengah detik, “Ayah.”

Lelaki itu. Ia biasa dipanggil Alva. Usianya kurang lebih tujuh pancawarsa, aku tidak ingat benar. Satu hal yang pasti, kami saling mengasihi, sebab aku terlahir dari jemari mungil miliknya dahulu.

Ada alasan mengapa ia di sini. Mengapa sejak tadi wajahnya sendu, dan mengapa ia hanya sendiri, tidak bersama istri dan anak perempuannya. Hari ini, 29 Februari, adalah ulang tahun ayahnya yang ke enam puluh empat. Continue reading


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.